Analisis Penghapusan Pasal Dalam Simbur Cahaya

Artikel443 Dilihat

Oleh: H Albar Sentosa Subari*

Di dalam Simbur Cahaya baik hasil kompilasi kolonial Belanda tahun 1854 maupun hasil kompilasi Pasirah Bond tahun 1926, Peranan tokoh Pasirah menjadi titik sentral dari proses sistem pemerintahan marga dulu . Ini kita bisa telusuri di dalam Pasal satu dari Aturan Marga yang berbunyi ” Di dalam satu satunya marga ditetapkan satu Pasirah yang memerintah atas segala hal marganya dan itu Pasirah orang banyak yang milih dan RAJA yang angkat serta kasih nama.
Dari rumusan itu akan dapat kita ambil kata kuncinya yaitu Pasirah sangat berkuasa penuh.
Serta diangkat Raja ( raja mana yang dimaksud menarik untuk dikaji).
Terlepas dari itu sejak kompilasi Pasirah Bond disusun maka terjadi penghapusan beberapa pasal lebih kurang 28 mata pasal. Yang paling banyak berada pada aturan Penghukuman yaitu 20 pasal.
Dengan menggunakan analisis kualitatif deduktif patut dapat diduga sebagai berikut.
Yang anehnya Kompilasi Simbur Cahaya versi Pasirah Bond dibuat sendiri para Pasirah saat itu. Padahal pasal pasal dalam aturan Penghukuman memberikan kewenangan yang cukup besar kepada mereka untuk menghukum.
Apakah ini salah satu bukti yang dikatakan oleh H.M.Arlan Ismail, SH dalam bukunya Marga di Bumi Sriwijaya, bahwa terbentuk Pasirah Bond adalah hasil dari rasa nasionalisme sudah terlihat karena saat itu tahun 1926 di Nusantara telah terjadi pergerakan kemerdekaan ( lihat Budi Utomo, Sumpah Pemuda), kemungkinan itu sangat mendukung. Artinya hubungan komunitas warga satu marga adalah suatu ikatan bersaudara, bukan hubungan sebagai lawan, untuk diberi sanksi berat atau mengambil keuntungan/ bagian dari penyelesaian perkara perdata dan atau pidana adat (delik adat).
Sampai hal itu penulis sepenuhnya sependapat dengan beliau.
Misalnya kita ambil contoh kewenangan Pasirah dalam penyelesaian perkara perdata
Pasal 5. Tanda serah dibagi 3, Dua bagi pulang pada Pasirah atau kepala dusun dan satu bagi pada penggawa penggawa yang turut timbang perkara.
Pasal 21: Jika orang mencuri padi yang sedang dijemur…., kkena denda 4 R….denda dibagi dua sebagi pulang pada yang kecurian dan sebagi pada Pasirah.
Tentu kita bertanya tanya siapa fungsionaris Pasirah Bond itu.
Adalah sebagai berikut:
1. Pangeran M.Djahri kepala marga Tubohan kab.OKU.
2. Pangeran M.Nuh kepala marga Merapi kab Lahat
3. Pangeran A.Fattah kepala Marga Kayu Agung kab. OKI
4. Pangeran Bakri kepala marga Lubuk Batang kab. OKU
5. Pangeran Tjek Mat kepala marga Babat Toman keb. MUBA.
6. Pangeran Roos kepala Marga Muara Lakitan kab.MURA.
7. Pangeran Anwar kepala Marga Meranjat kab. OKI. ( Arlan Ismail, 2004: 43).
Simpulan bahwa telah terjadi penghapusan beberapa pasal lebih dari 28 pasal dalam kompilasi Simbur Cahaya versi kolonial Belanda oleh Pasirah Bond. Istilah dalam kompilasi Simbur Cahaya versi Pasirah Bond menggunakan istilah ‘ dimatikan ‘.
Penghapusan beberapa pasal dimaksudkan adalah mengurangi kewenangan seorang Pasirah dalam memimpin sebuah pemerintahan Marga.
Dan berdirinya Pasirah Bond disaat saat kesadaran berbangsa dan bernegara sudah mulai terlihat dalam gelombang politik di Indonesia saat itu, sehingga perlu berangsur angsur tumbuh rasa nasionalisme di dalam masyarakat hukum adat khususnya di dalam pemerintahan Marga, yang memang adalah berasal dari politik hukum kolonial Belanda untuk mempertahan kolonialisme mereka. (**)

*Penulis adalah ketua pembina adat Sumatera Selatan