Sumber-Sumber Etika

Artikel1,144 views

Oleh: H Albar Sentosa Subari*

Bicara masalah sumber sumber apapun yang akan dibahas tentu tidak terlepas dari adat istiadat dan kepercayaan manusia.
Baik disadari maupun tidak akan mempengaruhi pembuatan peraturan atau pedoman yang menjadi tolok ukur baik atau tidak nya perilaku manusia umumnya.
Sebagai catatan kita bahwa suatu ajaran yang dibuat oleh manusia, seperti hukum adat, ideologi dan budaya, biasanya luntur bila dirasakan sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan ilmu serta tekhnologi yang dibutuhkan manusia. Seperti apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara bahwa adat istiadat dan hukum itu merupakan hasil dari Budi dan daya selalu bersifat dinamis dan plastis.
Akan tetapi bila ajaran itu berasal dari Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dia akan kekal dan berlaku untuk semua manusia serta alam semesta.
Menurut beberapa ahli sumber sumber nilai untuk suatu etika dan moral manusia secara garis besar dapat kita bagi antara lain.

1. Agama, yang meliputi agama samawi atau agama yang diturunkan dari langit dalam bentuk kitab.
Sedangkan agama bumi kitabnya dibuat oleh kemampuan manusia lainnya seperti Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan lain nya.
Semua ajaran ada dalam kitab agama samawi dan bumi diyakini kebenarannya oleh umat yang memeluknya, sehingga akan menimbulkan ketaatan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari hari. Konsistensi manusia untuk mempertahankan suatu agama yang dipegangnya sejak kecil.
2. Ideologi, yaitu ajaran atau aliran yang diyakini kebenarannya berdasarkan pada kemampuan hasil karya pemikiran akal Budi manusia. Kekuatan berlogika dan beragumentasi yang rasional seseorang atau sekelompok manusia diyakininya akan mampu mengatur dan menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Bentuk bentuk ideologi sering disebut dengan isme isme, seperti sekularisme, liberalisme dan lain sebagainya.
Bagi bangsa Indonesia ideologi yang digunakan sampai detik ini adalah Pancasila yang memiliki lima sila. Kelima sila tersebut saling berkaitan, dimana yang menjadi sentral adalah sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama menjadi terpenting karena sebagai pijakan bertindak yang mempercayai adanya ketuhanan. Dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa maka seseorang harus melihat dan mengikuti kehidupan yang digariskan, yaitu untuk mengamalkan sifat sifat manusia yang bermartabat, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan dalam melaksanakan pemerintahan dan dalam mencapai kesejahteraan bangsa Indonesia.
Tokoh masyarakat harus mampu mengalirkan pemikiran cair dan mudah diterima guna realisasi dari sila sila Pancasila tersebut.

Baca Juga:   Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Masyarakat

3.Budaya, yang meliputi tradisi nenek moyang, adat istiadat, kebiasaan yang sudah ditemukan dan diteruskan secara turun temurun.
Di samping itu, penghormatan terhadap ketokohan seseorang di mana setiap nasihat yang dikatakan atau perbuatan yang dilakukan mendapatkan kehormatan atau wajib diikuti oleh orang yang ada dalam komunitas tersebut. Budaya ini memiliki daya magis yang mampu menjadi magnet sehingga mau tidak mau diakui dan diyakini oleh kelompok masyarakat tertentu sebagai suatu sakral, seperti yang ada di Papua, seorang Ketua suku punya hak untuk memiliki banyak wanita sebagai isterinya tanpa penolakan sedikitpun dari warganya. Hal ini berkontraksi dengan kehidupan di kota kota dianggap tabu.
Ini menunjukkan bukti bahwa budaya turun temurun lebih menguasai nurani masyarakat tertentu dibandingkan dengan etika yang lain.

Mengingat bahwa kebudayaan itu bersifat ngulur mengkerut istilah guru besar hukum adat di fakultas hukum universitas gajah Mada Prof. Mr. Djojodigoeno yang diteruskan oleh murid nya Prof. Iman Sudiyat, SH, karena etika tidak terlepas dari adat budaya maka demikian juga suatu etika akan mengalami perubahan, sesuai dengan kebutuhan manusia dimana interaksi sosial akan berubah ubah menjadi lebih maju karena didukung oleh kemajuan teknologi dan informasi.
Ambil contoh ditahun tujuh puluhan saat hari lebaran, kita sibuk membuat kartu lebaran ucapan selamat hari raya untuk disampaikan kepada sanak keluarga yang sampai nya nanti ke alamat bisa berhari hari atau lebih.Sekarang dengan tekhnologi canggih yang ada di aplikasi handphone, mudah saja kita menginginkan suatu pesan kepada seseorang dan tiba dalam waktu sangat sangat cepat.
Itulah contoh budaya berkembang tanpa mengurangi etika dan moral berinteraksi sosial. (**)

Baca Juga:   Makna Kerapian Busana Yuris

*Penulis adalah pengamat hukum di Sumatera Selatan