Ketika Layar Mengambil Alih Percakapan: Dampak Gadget terhadap Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini

Artikel483 views
Oleh:  Sherly Desliyanah*
Gadget merupakan salah satu bentuk teknologi komunikasi yang berkembang pesat di Indonesia dan telah menjadi bagian dari lingkungan sosial dalam masyarakat Indonesia. Kehadiran perangkat ini bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebuah fenomena yang mengubah cara orang berinteraksi serta menjalin hubungan dalam masyarakat. Meskipun inovasi dan fitur-fitur canggihnya mempermudah akses terhadap informasi pendidikan, penggunaan gadget yang berlebihan tanpa adanya kontrol sosial dapat mengubah nilai-nilai yang dianut anak. Gadget atau gawai sering kali menjadi “tempat pertemuan baru” yang mengalihkan perhatian anak dari interaksi nyata di sekolah maupun di rumah. Jika tidak digunakan secara bijak, hal ini dapat memicu kerentanan perilaku serta kecanduan digital sejak usia dini.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat gadget menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gadget seperti telepon pintar, tablet, dan komputer tidak hanya digunakan oleh orang dewasa, tetapi juga semakin sering digunakan oleh anak-anak, termasuk anak usia dini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kepemilikan dan penggunaan telepon seluler atau gadget di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi, terutama pada kelompok usia produktif, serta mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada anak usia dini. Data tersebut mencatat bahwa tingkat penggunaan gadget pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 94,18%, sedangkan pada anak usia dini berkisar antara 39% hingga 42%. Selain itu, akses internet di Indonesia juga semakin meluas, yang mencerminkan meningkatnya pemanfaatan teknologi digital oleh berbagai kelompok usia. Seiring dengan data tersebut, pada 19 Mei 2026, APJII secara resmi merilis hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang diselenggarakan di Jakarta. Berdasarkan hasil survei tersebut, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 81,72%, dengan jumlah pengguna sekitar 235.261.078 jiwa. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 80,66%.
Gadget dapat memberikan berbagai manfaat, seperti membantu anak memperoleh informasi, mengenal berbagai kosakata, serta menyediakan beragam aplikasi dan media pembelajaran yang menarik. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dan tanpa pengawasan dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek perkembangan anak, salah satunya adalah kemampuan berbicara. Merujuk pada panduan medis yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tingkat keterlambatan berbicara atau speech delay pada anak usia prasekolah di Indonesia, diperkirakan berada pada kisaran 5% hingga 10%. Namun, sejumlah informasi kesehatan dari Kementerian Kesehatan mengindikasikan bahwa angka tersebut berpotensi lebih tinggi, bahkan mencapai sekitar 20%, yang diduga berkaitan dengan meningkatnya penggunaan teknologi di era digital. Informasi lebih lanjut mengenai keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak dapat.
Kemampuan berbicara merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan bahasa anak usia dini. Melalui kemampuan berbicara, anak dapat menyampaikan keinginan, perasaan, pikiran, dan pengalaman kepada orang lain. Kemampuan ini juga berkembang melalui proses interaksi secara langsung dengan orang tua, guru, saudara, dan teman sebaya. Oleh karena itu, penggunaan gadget yang mengurangi kesempatan anak untuk berkomunikasi secara langsung perlu menjadi perhatian bagi orang tua dan pendidik.
Kontribusi Gadget terhadap Perkembangan Kemampuan Berbicara Anak
Penggunaan gadget dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap kemampuan berbicara anak. Dampak tersebut sangat bergantung pada durasi penggunaan, jenis konten yang diakses, serta pendampingan orang dewasa.
Penggunaan gadget secara bijak dan terarah dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kemampuan berbicara anak usia dini. Gadget dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang menyediakan berbagai konten edukatif, seperti video cerita, lagu anak, permainan interaktif, dan aplikasi pembelajaran bahasa. Melalui berbagai media tersebut, anak dapat memperoleh pengalaman belajar yang menarik sekaligus mengenal berbagai kosakata baru.
Salah satu kontribusi gadget adalah membantu memperkaya perbendaharaan kata anak. Ketika anak menonton cerita atau video edukatif yang sesuai dengan usianya, mereka dapat mendengar dan mengenal kata-kata baru yang sebelumnya belum diketahui. Anak juga dapat belajar memahami makna kata melalui gambar, suara, dan situasi yang ditampilkan dalam video. Hal ini dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan untuk menggunakan kosakata dalam percakapan sehari-hari.
Selain memperkaya kosakata, gadget juga dapat membantu anak belajar pengucapan kata dan kalimat. Anak usia dini cenderung belajar melalui proses meniru. Ketika mendengarkan lagu atau cerita dari media digital, anak dapat menirukan bunyi, kata, maupun kalimat yang didengarnya. Kegiatan meniru tersebut dapat menjadi salah satu bentuk stimulasi untuk melatih kemampuan artikulasi dan pelafalan anak. Gadget juga dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan minat anak dalam berkomunikasi. Konten yang menarik dan interaktif dapat mendorong rasa ingin tahu anak sehingga mereka terdorong untuk bertanya dan membicarakan hal-hal yang mereka lihat. Misalnya, setelah menonton video cerita, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi dengan memberikan pertanyaan sederhana mengenai tokoh, alur cerita, atau kejadian yang terdapat dalam video. Dengan demikian, penggunaan gadget tidak hanya menjadi aktivitas pasif, tetapi dapat dilanjutkan dengan interaksi dan percakapan secara langsung.
Selain itu, gadget dapat membantu memberikan stimulasi bahasa melalui kegiatan yang menyenangkan. Lagu, cerita bergambar, permainan tebak kata, dan aplikasi edukasi dapat membuat proses belajar bahasa menjadi lebih menarik bagi anak. Anak dapat belajar mengenal nama benda, warna, bentuk, hewan, maupun aktivitas sehari-hari melalui media digital yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya.
Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal apabila penggunaan gadget dilakukan secara terbatas dan didampingi oleh orang tua atau pendidik. Orang dewasa dapat mengajak anak berdiskusi mengenai konten yang ditonton, meminta anak menceritakan kembali isi cerita, serta menghubungkan informasi yang diperoleh dari gadget dengan pengalaman sehari-hari. Interaksi tersebut sangat penting karena perkembangan kemampuan berbicara anak tidak hanya bergantung pada apa yang didengar dari gadget, tetapi juga pada kesempatan anak untuk berkomunikasi secara aktif dengan orang lain.
Dengan demikian, gadget dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kemampuan berbicara anak apabila digunakan sebagai media pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti interaksi sosial. Pemilihan konten yang sesuai usia, durasi penggunaan yang terkontrol, serta pendampingan orang tua menjadi faktor penting agar gadget dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu perkembangan bahasa dan kemampuan komunikasi anak usia dini. Jika digunakan secara tepat dan dalam batas yang wajar, gadget dapat menjadi media yang mendukung perkembangan bahasa anak.
Berkurangnya Kesempatan Anak untuk Berkomunikasi secara Langsung
Salah satu dampak negatif penggunaan gadget secara berlebihan adalah berkurangnya interaksi langsung antara anak dengan orang di sekitarnya. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak usia dini untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya. Anak yang menghabiskan banyak waktu dengan gadget cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melakukan percakapan tatap muka dengan orang tua, saudara, guru, maupun teman sebaya. Padahal, interaksi langsung merupakan bagian penting dalam proses perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa anak.
Kemampuan berbicara tidak berkembang hanya melalui kegiatan mendengarkan atau menonton, tetapi juga melalui proses komunikasi dua arah. Ketika berinteraksi secara langsung, anak belajar menyampaikan keinginan, menjawab pertanyaan, mengungkapkan perasaan, menceritakan pengalaman, serta memahami perkataan orang lain. Anak juga belajar menggunakan ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh sebagai bagian dari proses komunikasi.
Ketika waktu anak lebih banyak digunakan untuk bermain gadget, kesempatan untuk melakukan aktivitas yang melibatkan komunikasi dapat menjadi berkurang. Misalnya, anak menjadi lebih jarang berbicara dengan orang tua, bermain bersama teman, membaca buku cerita bersama, atau mengikuti kegiatan bermain peran. Kurangnya pengalaman tersebut dapat membuat anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih kemampuan berbicara dalam situasi nyata.
Selain itu, interaksi dengan gadget pada umumnya bersifat terbatas dibandingkan dengan komunikasi antarmanusia. Ketika menonton video, anak lebih banyak menerima informasi secara satu arah. Anak memang dapat mendengar berbagai kosakata dan kalimat, tetapi tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk memberikan respons atau melakukan percakapan secara aktif. Akibatnya, anak mungkin mengenal banyak kata, tetapi belum tentu mampu menggunakan kata-kata tersebut dengan baik dalam komunikasi sehari-hari.
Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa penggunaan gadget tidak menggantikan interaksi langsung anak dengan lingkungan sosialnya. Orang tua dapat mengajak anak berbicara setelah menggunakan gadget, menanyakan isi tontonan, meminta anak menceritakan kembali sebuah cerita, atau mendiskusikan pengalaman yang dialaminya. Kegiatan sederhana seperti makan bersama sambil berbincang, bermain bersama, membaca buku cerita, dan mengajak anak bercerita tentang kegiatan sehari-hari juga dapat memberikan stimulasi yang penting bagi perkembangan kemampuan berbicara.
Dengan demikian, penggunaan gadget perlu diimbangi dengan interaksi sosial secara langsung. Gadget dapat menjadi media pendukung pembelajaran, tetapi tidak seharusnya menggantikan komunikasi antara anak dan orang-orang di sekitarnya. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk bertanya, menjawab pertanyaan, bercerita, berdiskusi, dan mengungkapkan perasaan. Apabila kesempatan tersebut berkurang, perkembangan kemampuan berbicara anak dapat menjadi kurang optimal. Semakin banyak kesempatan anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung, semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh anak untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan keterampilan sosialnya.
Terhambatnya Perkembangan Bahasa pada Anak
Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan bahasa, terutama apabila gadget menggantikan interaksi sosial dan aktivitas bermain yang melibatkan komunikasi. Anak mungkin lebih banyak menerima informasi secara pasif daripada menggunakan bahasa secara aktif.
Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor yang berpotensi menghambat perkembangan bahasa dan kemampuan berbicara anak usia dini, terutama apabila waktu menggunakan gadget menggantikan kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Pada usia dini, anak sedang berada dalam tahap penting perkembangan bahasa sehingga membutuhkan banyak stimulasi melalui percakapan, bermain, bernyanyi, membaca cerita, dan kegiatan interaktif lainnya.
Anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melakukan komunikasi dua arah. Ketika menonton video atau bermain game, anak lebih banyak menerima informasi dari layar daripada menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Kondisi tersebut dapat membuat anak kurang terlatih dalam menggunakan bahasa secara aktif, seperti menyusun kalimat, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, atau menceritakan pengalaman.
Selain itu, penggunaan gadget secara berlebihan dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam memahami dan menggunakan kosakata. Anak mungkin dapat meniru kata atau kalimat yang didengar dari video, tetapi belum tentu memahami makna dan konteks penggunaannya. Hal ini dapat menyebabkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif anak berkembang kurang optimal. Kemampuan bahasa reseptif berkaitan dengan kemampuan memahami bahasa yang didengar, sedangkan kemampuan bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pikiran, keinginan, dan perasaan melalui kata-kata.
Kurangnya interaksi langsung juga dapat menyebabkan anak kehilangan berbagai kesempatan untuk belajar berkomunikasi dalam situasi nyata. Melalui percakapan dengan orang tua, guru, dan teman sebaya, anak belajar memahami giliran berbicara, mendengarkan orang lain, merespons pertanyaan, serta menyesuaikan cara berbicara dengan situasi tertentu. Pengalaman seperti ini sulit diperoleh secara maksimal apabila sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan gadget.
Namun, penting untuk dipahami bahwa keterlambatan perkembangan bahasa tidak selalu disebabkan oleh penggunaan gadget. Perkembangan kemampuan bahasa anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan keluarga, pola interaksi, stimulasi yang diberikan, kondisi perkembangan anak, serta faktor lainnya. Oleh karena itu, penggunaan gadget perlu dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat berkontribusi, terutama jika penggunaannya berlebihan dan tidak disertai pendampingan.
Untuk mencegah terhambatnya perkembangan bahasa, orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan gadget dengan kegiatan yang mendorong komunikasi langsung. Orang tua dapat mengajak anak berbicara, membacakan buku cerita, bernyanyi bersama, bermain peran, atau meminta anak menceritakan kembali kegiatan yang telah dilakukan. Pendampingan ketika anak menggunakan gadget juga penting agar orang tua dapat mengubah aktivitas digital menjadi kesempatan untuk berdiskusi dan berkomunikasi.
Sebagai contoh, anak yang terbiasa menonton video dalam waktu lama mungkin mampu menghafal beberapa kata atau kalimat, tetapi belum tentu dapat menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Anak juga dapat mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat, menjawab pertanyaan, atau mengungkapkan kebutuhan dan perasaannya secara verbal.
Berkurangnya Kemampuan Berkomunikasi Dua Arah
Kemampuan berbicara berkembang dengan baik melalui interaksi dua arah. Ketika anak berbicara dengan orang tua atau teman, anak belajar memahami respons, menunggu giliran berbicara, menggunakan ekspresi, dan menyesuaikan pembicaraan dengan situasi.
Sebaliknya, ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan gadget, komunikasi yang terjadi cenderung satu arah. Anak hanya menerima suara atau gambar dari layar tanpa memperoleh respons sosial yang sama seperti ketika berbicara dengan manusia. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kesempatan anak untuk melatih keterampilan komunikasi dapat berkurang.
Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Kemampuan Anak dalam Memahami dan Menggunakan Bahasa
Konten yang dikonsumsi anak melalui gadget juga dapat mempengaruhi perkembangan kosakata dan cara anak menggunakan bahasa. Konten edukatif yang sesuai usia dapat memperkaya kosakata anak. Sebaliknya, konten yang tidak sesuai dapat membuat anak meniru kata-kata, ungkapan, atau gaya berbicara yang kurang tepat.
Anak usia dini berada pada tahap meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan jenis tontonan dan permainan yang digunakan anak. Pendampingan sangat penting agar anak dapat memahami makna kata yang didengar dan menggunakannya secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Penggunaan gadget telah menjadi bagian dari kehidupan anak usia dini dan dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap perkembangan kemampuan berbicara. Di satu sisi, gadget dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang menarik untuk memperkaya kosakata, membantu anak mengenal pengucapan kata, serta memberikan stimulasi bahasa melalui video edukatif, lagu, cerita, dan aplikasi interaktif. Namun, disisi lain, penggunaan gadget yang berlebihan dan tidak terkontrol dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung dengan orang tua, guru, dan teman sebaya. Berkurangnya interaksi tersebut berpotensi menghambat kemampuan anak dalam menggunakan bahasa secara aktif, seperti menyampaikan pikiran, mengungkapkan perasaan, menyusun kalimat, dan melakukan komunikasi dua arah.
Penggunaan gadget memiliki dampak yang beragam terhadap kemampuan berbicara anak usia dini. Gadget dapat menjadi media pembelajaran yang bermanfaat apabila digunakan secara terbatas, dengan konten yang sesuai usia, dan disertai pendampingan orang dewasa. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung, bermain, dan melakukan komunikasi dua arah yang sangat penting bagi perkembangan bahasa.
Oleh karena itu, penggunaan gadget pada anak usia dini perlu dilakukan secara bijaksana dan disesuaikan dengan kebutuhan serta tahap perkembangan anak. Peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam memilih konten yang sesuai, mengatur durasi penggunaan, serta memberikan pendampingan selama anak menggunakan gadget. Penggunaan gadget juga sebaiknya diimbangi dengan kegiatan yang mendorong interaksi langsung, seperti membaca buku bersama, bermain peran, bernyanyi, bercerita, dan bermain dengan teman sebaya. Gadget sebaiknya tidak menjadi pengganti interaksi antara anak dengan orang tua, guru, dan teman sebaya. Peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam mengatur penggunaan gadget serta memberikan stimulasi bahasa melalui komunikasi langsung. Dengan penggunaan teknologi yang bijak dan lingkungan yang kaya akan interaksi sosial, perkembangan kemampuan berbicara anak dapat tetap berlangsung secara optimal. (**)
* Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, STISIPOL Candradimuka
Baca Juga:   Ritual Kendi di IKN Nusantara