Inovasi Teknologi dan Pemasaran Terpadu Produk Kemplang

OI4,083 views
Pemulutan (Arungmedia.com)— Para petani rawa lebak yang tergabung dalam kelompok Tani Saluran Jaya, Desa Simpang Pelabuhan, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, kini mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar produk olahan mereka. Dalam rangka meningkatkan daya saing dan nilai jual produk lokal, Kelompok Tani Saluran Jaya yang selama ini mengisi waktu luang dengan membuat Kemplang yang diberi nama “Rezeki Bersama” mendapatkan pelatihan senin (11/11/2025).
Pelatihan ini merupakan kolaborasi antara bima.kemdiktisaintek dan STISIPOL Candradimuka dalam bentuk implementasi Tridharma Perguruan Tinggi tahun 2025. Menurur Indah Pusnita selaku ketua dan didampingi oleh Ivana dan Icuk Muhammad Sakir selaku anggota, mengharapakan pelatihan yang diberikan kepada para kelompok tani dapat meningkatkan kualitas produk, perluasan pemasaran, dan penggunaan berbagai platfom media untuk mempromosikan hasil Kemplang yang mereka buat. Selain itu, mereka juga diajarkan tentang adaptasi teknologi dan inovasi, serta cara melakukan pemasaran secara terpadu.
Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan kemampuan memasarkan produk kemplang—makanan khas berbahan dasar ikan—melalui berbagai platform digital seperti media sosial, marketplace, dan website e-commerce.
Materi yang diberikan meliputi strategi branding produk, fotografi digital, penulisan konten promosi, serta teknik penjualan daring.
Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara juga memberikan bantuan satu unit alat panggangan kemplang kepada kelompok petani Saluran Jaya sebagai bentuk dukungan peningkatan kapasitas produksi.
peserta juga mengikuti sesi praktik membuat akun bisnis di media sosial dan marketplace, serta belajar menganalisis perilaku konsumen menggunakan data digital.
Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat rawa lebak dengan membuka peluang usaha baru di sektor ekonomi kreatif. Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi lokal berbasis digital, yang diharapkan dapat menciptakan kemandirian bagi petani rawa lebak sekaligus menjaga keberlanjutan produk pangan tradisional daerah.
Pada kesempatan lain, Kelompok Tani Saluran Jaya juga mendapatkan pelatihan penggunaan mesin pengering atau oven sehingga tidak lagi selalu bergantung pada penjemuran dengan menggunakan sinar matahari. Menurut H Burlian Sutopo saat memberikan pelatihan tentang cara pengeringan Kemplang bahwa proses untuk pengeringan yang selama ini secara manual dengan mengandalkan sinar matahari hanya dapat dilakukaan saat matahari terik. Selain itu, butuh minimal 2 hari agar bahan baku kemplang yang dikeringkan siap untuk di panggang. Kondisi dapat dilakukan bila cuaca tidak mendung atau bukan musim hujan, papar pria yang sudah menekuni bisnis krupuk dan kemplang sejak puluhan tahun lalu.
Lebih lanjut Topo menjelaskan, penggunaan teknologi inovasi yang dia ciptakan sendiri dapat menghemat waktu, biaya, dan meningkatkan kualitas produk. Menurutnya, pengering dengan menggunakan mesin cuma butuh waktu 5-6 jam bahan baku kemplang siap untuk dipanggang. Bandingkan dengan penjemuran menggunakan sinar matahari butuh waktu 2 hari. Itupun kalau tidak hujan, dan apabila hujan maka kualitas bahan bakunya akan menurun. Selain itu, apabila musim hujan, maka terpaksa harus menganggur karena tidak menjemur bahan baku kemplang. Dengan penggunaan mesin penegring atau oven, maka tidak ada lagi istilah “menganggur” karena setiap saat bahan baku bisa dikeringkan, tuturnya sedikit berpomosi. (Ariq)
Baca Juga:   Bocah 8 Tahun Asal Palembang Tewas Tenggelam di Sungai Ogan, Begini Kronologinya...!