KKSS Sumsel Menunggu Pemimpin Sejati

Politik2,333 views
Suasana sore itu tenang, tetapi obrolannya tidak. Di sebuah warung kopi, diskusi kecil bernuansa sederhana di Palembang, Ir. Suparman Romans, M.Si. (Ketua HIMAS Sumsel sekaligus salah satu tokoh muda KKSS) menyampaikan pandangannya dengan nada yang tegas, runut, dan nyaris tanpa jeda emosional. Ada optimisme dalam suaranya, tetapi juga ketegasan seperti seseorang yang telah terlalu lama melihat sesuatu berjalan tidak sebagaimana mestinya.
Menjelang suksesi kepengurusan KKSS Sumatera Selatan, obrolan tentang masa depan organisasi mulai mencuat. Namun bagi Suparman, ini bukan sekadar soal siapa yang akan duduk di kursi ketua, melainkan apakah KKSS Sumsel akan kembali menemukan arah perjuangannya, atau justru kembali terjebak dalam siklus stagnasi yang telah berlangsung hampir satu dekade.
Red: Ada penilaian bahwa KKSS Sumsel telah kehilangan daya hidupnya. Apa benar seburuk itu?
SR: Ya, mari kita jujur. Ada masa ketika nama KKSS Sumsel adalah kebanggaan, rumah identitas, ruang persaudaraan, dan simbol solidaritas perantau Sulawesi Selatan. Tapi beberapa tahun terakhir, posisi itu memudar. Organisasi ini tetap eksis, tetapi seperti kapal kehilangan kompas. Ia mengapung, namun tidak bergerak.
Konsolidasi melemah, agenda tidak memiliki kesinambungan, dan energi kolektif yang dulu menyala kini tinggal nostalgia. Padahal potensi KKSS luar biasa, dari jaringan, sumber daya manusia, hingga posisi sosial di Sumatera Selatan. Seharusnya kita menjadi pusat gerak budaya, solidaritas, ekonomi, dan kontribusi sosial yang nyata.
Red: Pemilihan ketua baru KKSS Sumsel akan berlangsung dalam waktu dekat. Anda menyebutnya sebagai momentum penting. Apa yang membuatnya krusial?
SR: Karena ini bukan sekadar pergantian pengurus. Ini momentum menentukan arah. Pertanyaan utamanya hanya satu: Apakah KKSS siap bangkit atau puas dalam stagnasi?
Lebih dari itu, apakah kita mau belajar dari kesalahan masa lalu? Atau akan mengulang pola yang sama hanya karena pragmatisme sesaat?
Red: Jika begitu, apa syarat pertama yang harus dimiliki calon pemimpin KKSS Sumsel?
SR: Integritas. Itu harga mati.
Pemimpin KKSS bukan sekadar pejabat organisasi. Ia penjaga nilai. Ia wajah komunitas. Tanpa integritas, organisasi mudah diarahkan oleh kepentingan kelompok, tekanan eksternal, atau ambisi pribadi.
Pemimpin berintegritas berani menolak transaksi kepentingan, berani mengambil keputusan tidak populer demi kemaslahatan, dan tidak alergi kritik.
Red: Setelah integritas, apa yang diperlukan?
SR: Visi. Dan bukan sekadar visi yang enak dibaca di spanduk, tetapi visi yang dapat diterjemahkan menjadi strategi, program, dan manfaat nyata.
KKSS harus bergerak di penguatan ekonomi anggota, pelestarian budaya, penguatan jaringan sosial, dan kaderisasi generasi muda. Tanpa arah, organisasi sebesar ini hanya akan hidup sebatas simbol dan seremoni.
Red: Bagaimana dengan anggapan bahwa pemimpin kaya adalah solusi?
SR: Itu keliru. Banyak yang salah paham, mengira organisasi bisa berjalan hanya dengan kantong pribadi ketua. Yang terjadi justru sebaliknya: lahir loyalitas transaksional.
Organisasi jadi bergantung. Ketika ketua berhenti membiayai, kegiatan berhenti. Kaderisasi macet. Kritik dianggap ancaman. Dan organisasi kehilangan ruh otonominya.
Red: Lalu bagaimana dengan pemimpin yang memiliki jabatan politik?
SR: Politisi membawa akses, tapi organisasi berbasis budaya seperti KKSS bukan ruang politik praktis. Jika dipimpin dengan pendekatan politis, organisasi bisa terbelah.
Yang harus kita jaga adalah rumah bersama, bukan panggung kampanye.
Red: Jadi, siapa pemimpin yang tepat?
SR: Pemimpin yang tidak merasa memiliki organisasi, tetapi merasa bertanggung jawab merawatnya. Yang tidak mencari pujian, tetapi membangun sistem. Yang memimpin dengan keteladanan, bukan transaksi.
Pemimpin yang sadar bahwa jabatan ini bukan kehormatan pribadi, tetapi amanah budaya.
Red: Pesan terakhir untuk keluarga besar KKSS Sumsel?
SR: Ini saatnya kita memilih dengan akal sehat, bukan dengan kantong, kedekatan, atau tekanan. KKSS harus bangkit. Dan kebangkitan itu dimulai dari keberanian memilih pemimpin yang tepat, bukan yang paling populer, bukan yang paling kaya, bukan yang paling berkuasa tetapi yang paling layak.
Karena setelah ini, yang dipertaruhkan bukan hanya nama organisasi, tetapi martabat sebuah identitas.
Percakapan berakhir dengan hening sesaat. Bukan karena kehilangan kata, tetapi karena makna yang baru saja disampaikan terasa beratdan sekaligus sangat diperlukan.
Sejarah KKSS Sumsel memasuki babak baru. Pertanyaannya kini sederhana:
apakah kita siap memilih pemimpin atau kembali membiarkan arah ditentukan oleh keadaan? (*)
Baca Juga:   Senam Sehat Restorasi di Palembang Banjir Hadiah