Kemegahan "Masjid Tiban" Dibangun Hanya Satu Malam?

Pariwisata303 views
Masjid Tiban di Desa Sanan Rejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

MALANG-JATIM, SriwijayaAktual.com – Kabupaten Malang, Jawa Timur, nama Masjid Tiban Turen sudah tidak asing
lagi. Masjid megah ini terletak di Desa Sanan Rejo, Kecamatan Turen.
Disebut ‘masjid tiban’ karena konon masjid ini dibangun tanpa
sepengetahuan warga sekitar.

Saat  berkunjung
ke masjid tersebut, dari jalan masuk yang cukup sempit, kita langsung
bisa bisa menyaksikan kemegahan masjid yang sebenarnya merupakan Pondok
Pesantren Bihaaru Bahri Asali, berlantai sepuluh.

Pilar-pilar
beton cukup kokoh itu terbuat dari batu keramik dan marmer terbaik yang
didatangkan langsung dari kawasan Tulungagung. Seluruh detail, ukiran,
dan kaligrafi pada dinding bangunan, dikerjakan langsung oleh seluruh
santri dan jamaah pondok secara bergiliran.

Puas menikmati areal
luar bangunan pondok, pengunjung bisa masuk ke lantai dua. Di tempat ini
terdapat deretan akuarium dengan warna-warni dan berbagai jenis ikan
air asin hingga air tawar. Ditambah ornamen dinding dan cahaya lampu
temaram, membuat suasana di lantai dua terkesan asri.

Naik ke
lantai tiga hingga sembilan, pengunjung memasuki areal kaligrafi dinding
bercorak emas. Tulisan ayat-ayat suci Alquran nampak terpatri berbaur
sorot lampu warna yang mempesona. Karena lantai areal pondok termasuk
suci, pengunjung pun wajib menanggalkan alas kaki saat menjelajahi sudut
ruangan di seluruh lantai bangunan.

Para pengunjung, termasuk
Purwo Mujiono asal Kediri dan Farihatul Komariyah asal Yogyakarta,
mengaku sengaja berwisata religi ke situ karena penasaran dengan
keindahan arsitektur masjid dengan luas lebih dari empat hektare ini
yang konon dibangun dalam satu malam oleh jin ini.

Sebenarnya,
masjid atau pondok pesantren ini dibangun atas prakarsa KH Ahmad Bahru
Mafdlaudin Saleh Al Mahbub atau akrab disapa Romo Kiai Ahmad.

Baca Juga:   5 Danau Paling Besar di Dunia

Pembangunan
pondok pesantren ini dilakukan sejak tahun 1978 oleh para santri dan
jamaahnya. Namun, oleh warga lokal muncul anggapan bahwa bangunan pondok
muncul secara tiba-tiba. Hal itu berkembang kuat. Tapi, pengurus pondok
pesantren membantahnya.

Bahkan, di depan meja penerima tamu ada
tulisan besar “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah “Pondok Tiban” (Pondok Muncul Dengan Sendirinya), dibangun oleh Jin dsb, itu
tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah
Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para
santri dan jamaah.”

Masjid Tiban di Kompleks Ponpes Bi Ba’a Fadlrah (Ist)
Arti nama Ponpes Bihaaru Bahri Asali
Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah) adalah lautan madu atau samudera rahmat. Menurut
Pengasuh Pondok KH Ahmad Hasan, ponpes dibangun atas dasar beberapa
prinsip yakni tidak terencana dan menggunakan barang seadanya.

Dalam
hal pembangunan pun pengurus dan pengasuh pondok dilarang meminta
sumbangan baik dengan cara meminta-minta hingga mengajukan proposal pada
pihak-pihak terkait.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Bihaaru
Bahri Asali Fadlaailir Rahmah,  KH Ahmad Hasan, kini hampir 300 santri
belajar di situ. Para santri juga dilibatkan dalam pembangunan areal
pondok pesantren ini.” Katannya seperti dikutip Sindonews, (6/8/2016). .


Menurut santri yang umumnya sudah
berkeluarga, hidup di areal pondok membuat hati semakin tenang. “Hidup
di pondok mampu membersihkan hati,” kata Ipin Harianto, santri asal
Surabaya. (*).

Komentar