Oleh: H Albar Sentosa Subari*
Dalam video yang diunggah pada tanggal 23 Agustus 2019, budayawan Betawi Ridwan Saidi secara tegas menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya adalah” Fiktif”.
Bahkan dirinya telah mengklaim 30 tahun mempelajari bahasa kuno guna menelisik jejak jejak keberadaan kerajaan Sriwijaya.Hasil penelusuran itu membawa pada satu hipotesis bahwa kerajaan Sriwijaya tersebut Fiktif belaka.
Hipotesis itu kemudian ia cetus kan dalam sebuah video wawancara YouTube dalam kanal Macan Idealis.Menurut pengakuan nya 30 tahun mempelajari bahasa bahasa kuno.Banyak kesalahan arkeologi, prasasti di Jawa dan Sumatera adalah bahasa Melayu,tapi sebenarnya bahasa Armenia (Kompas,28 Agustus 2019).
Hal yang sama terulang kembali pada tanggal 10 Oktober 21, Ridwan Saidi mengungkap kembali masalah ke fiktifan kerajaan Sriwijaya, dalam kanal YouTube Rafli Harun, bahkan beliau membandingkan dengan kesultanan Palembang yang merupakan kerajaan besar di Nusantara; Namun tenggelam karena Fiksi Sriwijaya, tenggelam habis (Sripo,14 November 21, dengan judul Kesultanan Palembang Terbenam oleh Sriwijaya– padahal kerajaan itu Gak Ada).
Tentu kita masyarakat Sumatera Selatan umumnya dan pihak Pemerintah Daerah melalui lembaga atau dinas terkait misalnya Disbudpar,harus mengambil langkah yang tepat dan terukur.
Sikap yang tepat adalah memanggil atau mengundang yang bersangkutan untuk memaparkan hasil kesimpulan nya di depan masyarakat Sumatera Selatan,, sehingga kita dapat mengambil langkah langkah selanjutnya.
Sikap terukur tentu ini diselesaikan melalui proses jalur yang tepat.
Fakta di lapangan yang tidak bisa kita elakkan nama Sriwijaya sudah mendarah daging dan melekat menjadi nama yang sangat membanggakan,seperti Universitas Sriwijaya,PT, Pupuk Sriwijaya , terakhir ada klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan Sriwijaya FC, yang pernah menyandang gelar kejuaraan dengan double cup.
*Penulis adalah Ketua Jaringan Pancamandala Sriwijaya-Sumatera Selatan






