oleh

Semangat Nasionalisme Melahirkan Kemerdekaan

Oleh: H Albar Sentosa Subari*

Ir. Soekarno dalam pidato Pembelaan nya di Muka Hakim Kolonial pada akhir tahun 1930 , dimana pidato tersebut terhimpun dalam buku berjudul Indonesia Menggugat terbitan tahun 1956 oleh Penerbit SK Seno, Jakarta. Yang akhirnya pada tanggal 22 Desember 1930.beliau dijatuhi hukuman empat tahun penjara.
Putusan tersebut dikomentari oleh Prof. Schepper, satu satunya mahaguru dalam ilmu hukum pidana di Jakarta saat itu bahwa alasan alasan hakim untuk menjatuhkan hukuman tersebut dicari cari dan putusan itu menyimpang dari kebenaran dan melanggar dasar dasar hukum pidana modern .
Mengutip beberapa paragraf dari pidato tersebut antara lain erat berkaitan dengan pemikiran alam kemerahan antara lain beliau mengutip dari beberapa negarawan besar antara lain:
1. Mustafa Kamal dari Mesir menulis bahwa sesuatu bangsa yang tak merdeka sebenarnya adalah suatu bangsa yang tidak hidup.
2. Manual Quezon dari Philipina berkata bahwa lebih baik sonder Amerika ke neraka dari pada dengan Amerika ke sorga
3. Patrick Henry dari Amerika ” berikanlah kepadaku kemerdekaan, atau berikanlah padaku maut saja.
4. Erskine dari Finlandia kemerdekaan bukanlah soal tawar menawar, kemerdekaan adalah sebagai maut, dia ada atau dia tidak ada. Kalau orang menguranginya maka itu bukan kemerdekaan lagi.
Banyak lagi kutipan kutipan lainnya di mana intinya adalah menimbulkan rasa semangat nasionaisme untuk kemerdekaan.
Ir. Soekarno dalam pembelaan nya itu menyatakan bahwa dengan nasionalisme, maka rakyat tentu melihat hadirnya kemerdekaan sebagai Fajar yang berseri dan terang cuaca tentulah hatinya penuh dengan pengharapan yang menghidupkan. Tidak lagi penuh dengan syak dan dendam belaka. Dengan nasionalisme demikian itu rakyat akan risho dan sukahati menjalankan segala pengorbanan untuk hari kemudian yang menimbulkan hasrat. Pendek kata dengan nasionalisme rakyat akan bernyawa dan hidup dan bukan bangkai seperti sekarang.
Oleh karena rasa kebangsaan lah, begitu pemimpin Mesir yang termashur, Mustafa Kamil, menggambarkan nasionalisme positif itu:
” oleh karena rasa kebangsaanlah, maka bangsa bangsa yang terkebelakang lekas mencapai peradaban, kebesaran dan kekuasaan. Rasa kebangsaan lah yang menjadi darah yang mengalir dalam urat urat bangsa bangsa yang kuat dan rasa kebangsaanlah yang memberi hidup kepada tiap tiap manusia yang hidup. ”
Sonder nasionalisme tiada kemajuan, sonder nasionalisme tiada bangsa.
Tentu semua sejarah yang terurai di atas merupakan pelajaran bagi generasi penerus bangsa ini guna tetap tumbuh dan menjaga rasa bangsa terhadap jiwa kebangsaan Indonesia yang sudah dirintis oleh pendahulu pendahulu kita yang sekarang ada di tangan kita untuk menjaganya demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang diikat oleh ideologi Pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia 1945 dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Hidup Indonesia ku.

*Penulis adalah ketua Jaringan Pancamandala Sriwijaya-Sumatera Selatan

Baca Juga:   Tidak Perlu Bingung, ini Hadiah yang Pas untuk Sahabat yang Gila Bola

Komentar

Berita Terbaru Lainya