oleh

Peran Tokoh Adat Dalam membumikan Nilai Nilai Pancasila

DPRD Sumsel mengucapkan selamat Hari Bhayangkara ke-75, setiap 1 Juli 2021

Oleh: H. Albar Sentosa Subari*

Judul artikel di atas terdiri dari dua kata kunci yaitu tokoh adat dan membumikan nilai nilai Pancasila. Kita akan melihat keterkaitan kedua variabel tersebut.
Prof. Dr. RM. Soeripto, SH dalam pidato pengukuhan nya berjudul ” Hukum Adat dan Pancasila Dalam Pembinaan Hukum Nasional di FH Universitas Jember pada tanggal 2 November 1969 mengatakan bahwa Pancasila merupakan sumber kelahiran (welbron) sedangkan Hukum Adat sebagai sumber pengenal (kenbron). Sepertinya semakna dengan philosofi Melayu Adat bersandi Syara” . Syara” bersandi Kitabullah ( Adat mengato dari yang sesungguhnya adat istiadat berdasarkan Syar”i.
Hubungan Pancasila dengan Hukum Adat tentunya memerlukan peranan aktif Tokoh Adat untuk membumikan nilai nilai Pancasila dalam pergaulan masyarakat adat. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 6 dari Perda 12/1988. Dimana Rapat Adat sebagai institusi dan Pemangku Adat sebagai fungsionasirnya yang beranggotakan tiga unsur ( tokoh tokoh adat, alim ulama dan cerdik pandai) sama dengan kepengurusan Lembaga Adat Minangkabau disebut ” tiga tungku sejarangan”.
Kenapa tokoh tokoh adat sangat berpotensi untuk mensosialisasikan nilai nilai Pancasila tentu ini tidak terlepaskan dari perkembangan masyarakat adat ( nusantara) yang sangat paham nilai nilai yang hidup di dalam masyarakat sendiri mulai dari titik awal Berdasarkan ikatan geneologis sampai ke geneologis teritorial, atau dari struktural masyarakat yang unilateral sampai ke pada bilateral.
Siapa tokoh adat itu, menurut teori keputusan dari Prof. Ter Haar bahwa tokoh adat / penguasa adat adalah orang yang berwenang memberikan fatwa atau keputusan di masyarakat nya.
Sebagai simpulnya bahwa Tokoh Adat sangat urgen untuk ikut aktif membumikan nilai nilai Pancasila, karena dia paham prilaku masyarakat nya sehingga tetap tersentral pada adat budaya. Yang menurut Ki. Hadjar Dewantara disebut teori tri kon yaitu konsentrisitas, konvergensi dan kontinuitas.
Sehingga wajar nanti kita dalam melakukan kegiatan rencana sesuai kesepakatan bersama. Yaitu melibatkan tokoh tokoh adat. Dengan kerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Jejaring Pancamandala, Kesbangpol dan Pembina Adat Sumsel yang kebetulan penulis juga sebagai ketuanya.

*Penulis adalah Ketua Jaringan Pancamanadala (JPM) Sriwijaya-Sumsel

Baca Juga:   Viral Tagihan Listrik Rp 19 Juta, Sehabis Dihitung Ulang Jadi Hanya Rp 1 Juta

Komentar

Berita Terbaru Lainya