Oleh: H.Albar Sentosa Subari*
Sepertiga dari tujuan hukum adalah asas kepastian hukum disamping asas keadilan dan kemanfaafan.
Untuk kali ini kita akan mengkaji asas kepastian hukum dan asas Presumptio justae causa. Karena kalau kita bahas kedua asas di atas terdapat/tergabung dalam Pasal 55 dan Pasal 67 UU No. 5 tahun 1986 Peradilan Tata Usaha Negara.
Presumptio justae causa bermakna bahwa suatu Keputusan Tata Usaha Negara harus dianggap benar dan dapat dilaksanakan sepanjang hakim belum membuktikan sebaliknya.
Hal ini jelas di atur di dalam Pasal 67 dari UU No. 5 / 1986:
1. Gugatan tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya keputusan badan atau pejabat tata usaha negara serta tindakan badan atau pejabat tata usaha yang digugat.
2. Penggugat dapat mengajukan permohonan agar pelaksanaan keputusan tata usaha negara itu ditunda selama pemeriksaan sengketa tata usaha negara sedang berjalan, sampai ada putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap.
3. Permohonan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 2 dapat diajukan sekaligus dalam gugatan dan dapat diputus terlebih dahulu dari pokok sengketanya.
4. Permohonan penundaan sebagaimana dimaksudkan ayat 2 :
a. dapat dikabulkan hanya apabila terdapat keadaan yang sangat mendesak yang mengakibatkan kepentingan penggugat sangat dirugikan jika keputusan tata usaha yang digugat itu tetap dilaksanakan.
c. tidak dapat dikabulkan apabila kepentingan umum dalam rangka pembangunan mengharuskan dilaksanakannya keputusan tersebut.
Selanjutnya tidak sembarang waktu untuk menggugat pejabat tata usaha negara ke pengadilan tata usaha negara, untuk kepastian hukum waktunya sangat jelas sebagaimana diatut pasal 55 dari UU No. 5 / 1986 berbunyi
: Gugatan dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu sembilan puluh hari terhitung sejak saat diterimanya dan atau diumumkannya keputusan badan atau pejabat tata usaha negara.
Simpul dari kedua asas yang baru kita bahas di atas tidak lain untuk menjaga kewibawaan dari badan atau pejabat tata usaha negara menjalankan tugasnya melaksanakannya peraturan perundang undangan yang berlaku sesuai dengan sumpah jabatan mereka masing masing. Jadi penggugat / pemohon tidak sembarangan melakukan perlawanan terhadap putusan yang mereka buat.
*Penulis adalah Ketua Jejaring Panca Mandala (JPM) Sriwijaya – Sumsel






