Ahli Sunnah Menetapkan ISTIWAK/BERSEMAYAM

NASIONAL879 views

Oleh: H.Albar Sentosa Subari*

Termasuk iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang diturunkan Allah SWT dalam Al-Qur’an yang telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Saw, serta yang telah disepakati oleh generasi pertama dari umat ini yaitu para sahabat., Bahwa Allah SWT berada di atas semua langit. QS. Al -Mulk ayat 16-17, Al-An-am ayat 18, 61, an Nahl ayat 50, Al Mukmin ayat 36-37, dan Faathir ayat 10.
Bersemayam atau istiwa di atas Arsy, disebut ditujuh tempat. QS. Al-Araaf ayat 54, Yunus ayat 3, at-Rad ayat 2, Thaahaa ayat 5, Al-Furqon ayat 59, as-Sajdah ayat 4 dan al-Hadiid ayat 4.
Mahatinggi di atas segala makhlukNya, Allah tetap bersama mereka dimana saja mereka berada, yaitu Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Nya. QS. Al-Araaf ayat 54.
Lalu Dia bersemayam di atas Arsy.
Al- Hafizh Ibnu Katsir berkata….. Pandangan yang kami ikuti berkenan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auzai, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, imam asy- Syafi’i, imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu membiarkan nya seperti apa adanya, tanpa takyif yaitu mempersoalkan kaifiyahnya/hakekatnya, tanpa tasybih yaitu penyerupaan dan tanpa takthil yaitu penolakan. Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk.

maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai Nya. Seperti yang difirmankan Nya.
QS. Asy- Syuuraa ayat 11.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Nya. Dan Allah lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Tetapi persoalan nya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh para Imam, diantara nya adalah Nu aim bin Hammad Al Khuzai guru imam Bukhari, ia mengatakan Barangsiapa yang menyerupai Allah dengan makhluk Nya, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari sifat yang telah Allah berikan untuk Diri Nya sendiri, berarti ia juga telah kafir. Tidaklah apa apa yang telah disifatkan Allah bagi Diri Nya sendiri dan oleh Rasul Nya merupakan suatu bentuk penyerupaan. Barangsiapa siapa yang menetapkan bagi Allah SWT setiap apa yang disebut kan pada ayat ayat Al Qur’an yang jelas dan hadist hadist yang shahih, dengan pengertian yang sesuai dengan kebesaran Allah, serta menafikan segala kekurangan dari Diri Nya, berarti ia telah menempuh jalan hidayah atau petunjuk.Tafsir Ibnu Katsir II/246-247.
Firman Allah SWT QS. Thaahaa ayat 5. Yaitu Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy.
Imam Malik ditanya tentang istiwa Allah, beliau menjawab
Istiwa Nya Allah sudah diketahui makna nya, dan kaifiyahnya tidak dapat dicapai nalar, dan beriman kepada wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid-ah, dan aku tidak melihat mu kecuali dalam kesesatan.
Kemudian Imam Malik menyuruh orang tersebut pergi dari majelis nya.
Imam Abu Hanifah berkata. Barangsiapa yang mengingkari bahwa Allah SWT berada di atas langit, maka ia telah kafir.
Syarah Aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, hal. 205-207. (**)

Baca Juga:   Media Headline Sriwijaya Raih Juara II dalam Kompetisi FJM Sumsel 2022 di Lampunh

*Penulis adalah pengamat hukum di Sumatera Selatan