oleh

Memperingati Nuzulul Qur’an Sebagai Renungan Memaknai Isi Al-Qur’an

OKU | Memperingati peristiwa malam Nuzulul Qur’an merupakan malam istimewa di bulan suci Ramadhan dan harus
menjadi renungan kita sebagai manusia dalam memaknai isi Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat muslim di dunia, jika masih ada yang memiliki perasaan bahwa membaca Al-Qur’an adalah sebuah beban dan menyusahkan hidup sehingga merasa berat mempelajari Al-Qur’an, itu artinya seseorang itu belum bisa memahami makna sesungguhnya yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hal tersebut dikemukakan Bripka Hadi Suhendra, SE ketika bertindak sebagai imam dan penceramah serta doa bersama dalam acara memperingati peristiwa malam Nuzulul Qur’an di Masjid Al-Muljadin, Desa Tubohan Kecamatan Semidang Aji Kabupaten OKU, Kamis malam Jum’at (29/04/2021) sekira pukul 19.10 hingga 21.25 WIB.

Lebih lanjut dikatakan,
sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah bahwa Allah berfirman : ” Allah turunkan Al-Qur’an bukan untuk menyusahkan engkau, bukan untuk membebani, melainkan rahmat, anugrah dan obat dari Allah SWT. ” Dengan adanya memperingati malam Nuzulul Qur’an ini harus menjadi momentum kita sebagai Umat Islam untuk mengubah cara berpikir mengenai Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sebagai pedoman kita dalam menjalani hidup, sebagai obat kita terhadap hati kita. Dengan adanya malam Nuzulul Qur’an ini harapan-Nya ke depan, kita bisa jadi lebih baik lagi dalam memahami isi yang terkandung dalam Al-Qur’an, ” ujar Hadi Suhendra.

” Peristiwa Nuzulul Qur’an harus menjadi renungan hubungan kita sebagai manusia dengan Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup kita di dunia. Jika kita masih memiliki perasaan bahwa membaca Al-Qur’an adalah sebuah beban yang menyusahkan hidup kita dan kita masih berat dalam mempelajari isi Al-Qur’an, itu artinya kita belum bisa memahami makna sesungguhnya dari Al-Qur’an, ” tegas Hadi Suhendra dari jajaran Polres OKU itu.

Oleh karena itu, bulan ramadhan sebagai bulan penuh berkah maka Umat Islam harus bisa memanfaatkannya dengan baik, terlebih lagi jika kita mengingat dan tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan kembali. Di bulan suci ini juga kita bisa manfaatkan untuk meningkatkan ketakwaan dan keilmuan kita dengan cara mengikuti majelis-majelis ilmu, salah satu majelis ilmu yang bisa diikuti saat bulan Ramadhan adalah kuliah tujuh menit (Kultum), lanjut Hadi Suhendra.

Kultum biasanya disampaikan setelah Sholat Fardhu, misalnya setelah Sholat Isya’ atau setelah Sholat Subuh, atau juga bisa disampaikan setelah Sholat Taraweh dan Witir. ” Salah satu materi yang bisa dijadikan sebagai bahan untuk Kultum atau ceramah saat bulan Ramadhan adalah tentang malam Nuzulul Qur’an, berdasarkan buku amalan di bulan Ramadhan, Mardiyah (2012 : 36), ” terang Hadi Suhendra menambahkan.

Ada beberapa amalan baik yang bisa kita lakukan dalam mengisi malam Nuzulul Qur’an di antaranya; 1.Dengan cara berdiam diri di Masjid atau Itikaf, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan betdoa serta melaksanakan Sholat Malam. 2. Tadarus Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an saat bulan suci Ramadhan memiliki kemuliaan yang sangat besar. Membaca Al-Qur’an saat bulan puasa akan mendapatkan sepuluh kebaikan. 3. Memperbanyak doa yang berhubungan dengan keinginan atau doa-doa yang sudah ada dalam Al-Qur’an, katena di malam Nuzulul Qur’an, Allah akan mengabulkan doa-doa permintaan umatnya. 4.Memperbanyak Sholat Malam, seperti Sholat Tahajud merupakan salah satu amalan malam Nuzulul Qur’an. Sebelum melakukan Sholat Malam, umat muslim dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu setelah Sholat Tarawih di masjid. Kemudian menjelang sahur atau tengah malam bangun kembali untuk menunaikan Sholat Malam. 5.Amalan yang dianjurkan untuk dilakukan saat peringatan diturunkannya Al-Qur’an adalah berdzikir. Pentingnya dzikir bahkan dianologikan sebagai hidup bersama orang yang sudah mati, saran Hadi Suhendra dalam Kultumnya.

Sebelum ceramah bertajuk Kultum (kuliah tujuh menit) dalam rangka memperingati peristiwa malam Nuzulul Qur’an di daerah tersebut, lebih dahulu melaksanakan sholat Isya’ , Taraweh dan Witir secara berjama’ah. (Armin Pani).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed