Promosikan Kain Khas OKUS

22
ARUNG. Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat saat pandemi, maka ketua Tim penggerak PKK Sumsel Hj. Febrita Lustia HD, mempromosikan kain khas dan kerajinan tangan daerah agar dikenal masyarakat luas. Komitmen ini dilakukan Feby saat meninjau proses pembuatan kain kawai kanduk di Desa Sukabumi, Kecamatan  Buay Pematang Ribu Ranau Tengah (BPRRT), Kabupaten Oku Selatan, Sabtu (14/11/2020). Feby menyampaikan bahwa untuk membantu meningkatkan produktivas ekonomi para pengrajin dan pelaku UMKM, terlebih saat pandemi covid-19 seperti sekarang ini, maka perlu untuk dipromosikan. Setelah sebelumnya mempromosikan kain jumputan, blongsong, dan angkinan, kini Feby Deru mempromosikan kain kawai kanduk khas Kabupaten OKU Selatan menjadi produk unggulan daerah. “Kain kawai kanduk ini merupakan kain khas  OKU Selatan. Saya memang ingin mengangkat dan mempromosikan kain khas  kawai kanduk ini agar menjadi produk unggulan,” ujarnya. Dia menyebut  17 kabupaten/kota di Sumsel memiliki ciri khas  dan produk unggulan masing-masing. Karena itu dia berupaya mengangkat keberadaan  produk daerah tersebut agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.
“Saya berupaya untuk mempromosikannya ke skala yang lebih luas”, tambah Feby.
Ditempat itu Feby Deru menyaksikan langsung proses pembuatan kawai kanduk yang diawali dari membentuk pola motif, penyulaman benang emas, menenun, hingga membordir dan menghasilkan kain kawai kanduk yang indah juga elok.
Feby mengungkapkan dirinya menyaksikan langsung ke pusat pengrajin kawai kanduk bukanlah tanpa alasan melainkan sebagai bentuk dukungan morilnya kepada para pengrajin agar terus menjaga warisan nenek moyang supaya tak punah ditelan zaman.
“Kain kawai kanduk ini perlu kita jaga. Kain indah dengan berbagai motif dan coraknya seperti aneka dedaunan, burung walet, burung merak, burung merpati, juga ada yang mencirikan 9 suku di Kabupaten OKU Selatan yang menandakan bahwa kain kawai kanduk adalah benar milik daerah ini,” jelasnya. Dari tinjauannya itu Feby mengaku  dapat mengetahui kendala yang selama ini dihadapi para pengrajin. Oleh karenanya, Dekranasda Sumsel segera berupaya untuk memberikan fasilitas bantuan berupa pengadaan bahan baku kain dan benang emas bagi para pengrajin. Pembina pengrajin kain kawai kanduk, Isyana Loneta Popo Ali akrab disapa Isye telah mendaftarkan kain kawai kanduk sebagai HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). “Telah kami daftarkan sebagai HAKI, untuk mencegah di kemudian hari agar tidak diklaim sebagai produk khas daerah lain,” ujarnya. Ditambahkan Isye, kain kawai kanduk tak hanya berfungsi sebagai busana  pelengkap  pada acara tertentu saja, namun dapat digunakan sebagai dekorasi hiasan rumah, seperti sarung bantalan kursi, taplak meja, dan hiasan dinding. Sementara itu, Udo Fatin, pemuda berusia 30 tahun, yang telah 3 tahun terakhir menekuni kerajinan kain kawai kanduk menyampaikan apresiasi atas kepedulian Ketua Dekranasda Sumsel terhadap perkembangan dan kemajuan para pengrajin kawai kanduk. “Luar biasa sekali bu Feby memberikan perhatian kepada kami para pengrajin kawai kanduk. Kami senang atas pembinaan yang dilakukan beliau, terlebih kesulitan pasokan bahan baku bagi para pengrajin nantinya segera bisa teratasi”, tuturnya.
Pemuda asli Ranau tersebut melanjutkan ia bertekad untuk tetap menekuni kerajinan  kain kawai kanduk warisan nenek moyang agar tetap terjaga. “Saya asli orang sini. Tumbuh besar di sini dikelilingi orang-orang yang menekuni kerajinan kain kawai kanduk sejak kecil. Karena itu saya tergerak untuk ikut mempelajari dan menekuni. Terlebih lagi melihat situasi saat ini, di mana para pemuda nyaris tak lagi berminat terhadap budaya dan adat istiadat daerah sendiri,”tegasnya. (**/Ril)

LEAVE A REPLY